Dalam
salah satu percobaannya, Cavagna menggunakan sebuah pesawat Airbus
A-300 sebagai sebuah laboratorim fisika raksasa yang dipenuhi dengan
berbagai peralatan ilmiah. Sebuah pendulum diayunkan pada kecepatan
konstan saat pesawat berada pada ketinggian 30.000 ft. Sementara itu,
rekan Cavagna, Norman Heglund, berjalan bolak-balik sepanjang lintasan
10 ft dengan kecepatan tetap pula. Tiba-tiba pesawat mengubah arah
terbangnya sehingga hampir vertikal ke atas. Selama kurang lebih 20
detik ruangan pesawat berada pada keadaan tanpa gravitasi (zero gravity) sehingga Cavagna dan Heglund terlihat seperti melayang/mengapung di udara seakan tidak memiliki massa (weightless).
Pilot pesawat kemudian mengatur posisi sehingga tingkat gravitasi
dalam ruangan menjadi 40% dari gravitasi normal di bumi (0,4g). Keadaan
ini sangat mirip dengan kondisi gravitasi di planet Mars. Saat itu
pendulum terlihat berayun dengan sangat lambat, seakan membuat lintasan
melingkar yang sangat panjang, sementara Heglund masih berjalan
melangkah bolak-balik dengan langkah-langkah panjang dan kecepatan
sangat lambat. Ini merupakan simulasi melangkah di planet Mars. Heglund
merasakan bahwa usaha yang dikeluarkan untuk melangkah pada keadaan
0,4g jauh lebih kecil dari melangkah di permukaan bumi, seakan tanpa
beban, tetapi dengan kecepatan yang jauh lebih kecil pula.
Untuk
menghemat energi, manusia melangkah dengan menggunakan prinsip gerakan
pendulum. Pendulum mengubah energi gerak yang mengayunnya menjadi
energi potensial gravitasi, dan sebaliknya (gerakan harmonik
sederhana). Pada titik terendah (titik pusat kesetimbangan), pendulum
mencapai kecepatan maksimum sehingga energi kinetiknya, EK = ½mv2,
mencapai nilai tertinggi, sementara energi potensialnya mencapai nilai
terendah. Pada titik tertinggi kecepatannya menjadi 0 (berhenti
sesaat), tetapi energi potensialnya, EP = mgh, mencapai maksimum. Di
titik ini pendulum mengubah energi potensialnya menjadi energi kinetik
sehingga pendulum kembali memiliki kecepatan dan bergerak jatuh menuju
titik kesetimbangannya. Di titik ini energi kinetik yang sudah mencapai
maksimum dikonversikan kembali menjadi energi potensial sehingga
pendulum bergerak terus menuju titik tertingginya, dan seterusnya.
Konversi energi kinetik menjadi energi potensial, dan sebaliknya, tidak
mencapai 100% (tetapi mendekati 100%) karena adanya gesekan dengan
udara dan tali yang mengikatnya yang menyebabkan terjadinya hilang
energi sehingga lama-kelamaan pendulum akan berhenti berayun dan diam
pada titik kesetimbangannya.
Manusia
meniru konsep ini untuk berjalan dan melangkah, tetapi gerakan yang
dilakukan manusia merupakan sistem pendulum yang tidak sempurna karena
konversi energi hanya mencapai 65% (hilang energi mencapai 35%). Ini
berarti bahwa manusia membutuhkan pasokan energi (dari makanan) untuk
menggantikan energi yang hilang tersebut. Inilah yang menyebabkan usaha
yang dibutuhkan untuk berjalan di bumi menjadi lebih besar (lebih
susah).
Hilang
energi yang terjadi disebabkan aktivitas otot-otot kaki yang saling
berkontraksi untuk mengadakan penyesuaian terhadap perubahan kekuatan
dan arah energi saat melangkah. Pada saat kaki menyentuh permukaan
tanah, terjadi gerakan memutar ke dalam (pronate). Gerakan ini
meregangkan otot kaki sehingga bersifat seperti pegas yang berusaha
beradaptasi dengan permukaan tanah dan menghindari terjadinya patah
tulang akibat tumbukan antara kaki dengan tanah. Saat kaki terangkat
kembali dari tanah, terjadi gerakan memutar keluar (supinate)
yang menyebabkan tegangnya otot-otot kaki sehingga bersifat seperti
pengungkit kaku yang dapat mendorong kaki lepas dari permukaan tanah. Kontraksi
pada otot-otot kaki ini membutuhkan energi panas yang diambil dari
energi yang seharusnya dikonversikan dari energi kinetik ke energi
potensial dan sebaliknya.
Pada
saat berjalan di bulan maupun di Mars, energi potensial manusia
menjadi sangat kecil karena gravitasi yang sangat kecil pula. Kecepatan
optimum dicapai saat energi kinetik sama besarnya dengan energi
potensial gravitasi. Karena energi potensial menjadi 40% (di Mars) dari
energi potensial manusia di bumi, maka energi kinetiknya pun menjadi
kecil sehingga kecepatan optimum menjadi semakin kecil. Di permukaan
bulan, dengan gravitasi hanya 0,17g (energi potensial hanya 17% dari
energi potensial di bumi), manusia hanya bisa berjalan dengan kecepatan
yang sangat kecil sehingga pergerakan maju hampir tidak terlihat
(seperti bouncing di tempat), tetapi usaha yang dibutuhkan
menjadi sangat kecil karena hilang energinya sangat kecil (dapat
diabaikan). Sebaliknya, jika manusia melangkah di permukaan dengan
gravitasi yang lebih besar dari gravitasi bumi (misalnya pada 1,5g),
kecepatan optimum yang dapat dicapai menjadi sangat besar sehingga
manusia bisa berjalan sangat cepat tetapi langkah-langkahnya terasa
sangat berat, bahkan terasa seakan jatuh ke depan. Keadaan ini
dianalogikan dengan manusia yang berjalan di bumi sambil membawa beban
seberat setengah berat badannya sendiri.

Ternyata
strategi untuk melangkahkan kaki sangat sederhana, sesederhana gerak
ayunan sistem pendulum yang diaplikasikan dalam Fisika Biomekanika. (***)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar